Home / Berita Umum / Perjanjian Naiknya Harga Minyak Berlaku Saat 6 Bulan Lalu

Perjanjian Naiknya Harga Minyak Berlaku Saat 6 Bulan Lalu

Perjanjian Naiknya Harga Minyak Berlaku Saat 6 Bulan Lalu – Harga minyak mentah Brent kuat tipis pada perdagangan Kamis (9/5) , waktu Amerika Serikat (AS) . Penguatan didorong oleh pengakuan Presiden AS Donald Trump berkenaan peluang tidak untuk menderek tarif import produk China. Awal mulanya, investor risau seandainya tarif dipraktekkan bakal menyeret perkembangan ekonomi serta memukul permintaam minyak.

Ditulis dari Reuters, Jumat (10/5) , harga minyak mentah Brent pada penutupan perdagangan Kamis (9/5) , naik tipis US$0, 02 berubah menjadi US$70, 39. Saat sesion terjadi, harga Brent pernah tertekan ke level US$69, 4 per barel.

Disamping itu, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) melemah US$0, 42 berubah menjadi US$61, 7 per barel.

Konflik dagang antara AS-China, sebagai dua perekonomian dunia, serta anjloknya pasar modal global udah menerjang harga minyak. Resiko ke dua hal semacam itu tambah besar dari tekanan geopolitik serta peraturan pemangkasan ketersediaan dari Amerika Latin, Afrika, serta Timur Tengah.

Harga minyak bangun dari level paling rendah saat sesion perdagangan seusai Trump menjelaskan dia terima ‘surat yg indah’ dari Presiden China Xi Jinping. Dengan mengambil surat itu dengan mengemukakan ”Mari bekerja sama-sama, silakan kita lihat apa kita dapat menuntaskan suatu hal ” .

Minggu ini, AS pernah memberitakan bakal menderek tarif sampai 25 prosen pada produk import China sejumlah US$200 miliar pada Jumat ini apabila ke dua negara gak jua capai kata setuju. China udah mengintimidasi buat mengerjakan balasan atau retaliasi yg mengakibatkan investor memindah asetnya ke asset yg terdapat resiko rendah.

Direktur Kekuatan Berjangka Mizuho Bob Yawger menilainya surat itu berikan impian pada peluang AS serta China capai perjanjian perdagangan.

Menurut Mitra Again Capital Management LLC John Kilduff konflik dagang AS-China udah menyeret perkembangan ekonomi di Asia. Apabila negosiasi ke dua negara tidak sukses estimasi permohonan minyak global yg udah dibikin awal mulanya bakal ditanyakan.

Tubuh Administrasi Kabar Kekuatan AS mengasumsikan permohonan minyak global bakalan tumbuh 1, 4 juta barel tahun ini.

” Itu pemicunya Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dikit kikir buat memasok minyak, ” kata Kilduff.

Jadi catatan, OPEC serta sekutunya, termasuk juga Rusia, udah menjalankan peraturan pemangkasan produksi sebesar 1, 2 juta barel perhari (bph) sejak mulai awal Januari 2019 waktu lalu. Perjanjian itu berlaku saat 6 bulan serta bakal dievaluasi pada pertemuan Juni 2019 waktu depan.

Sumber Reuters menjelaskan Arab Saudi, produsen paling besar OPEC, ragu-ragu buat menaikkan ketersediaan global lantaran takut harga bakalan anjlok. Bahkan juga, group kartel OPEC pun gak sangat percaya keadaan ketersediaan global pada paruh ke dua tahun ini.

Beberapa analis pun menilainya harga minyak pun dapatkan dorongan dari pengenaan sangsi AS pada Venezuela serta Iran dan ultimatum pada ketersediaan di Nigeria serta Venezuela. Hal semacam itu kurangi resiko dari konflik dagang AS-China.

Sejak mulai awal tahun harga Brent serta WTI udah kuat lebih dari 30 prosen.

” Ketidakpastian ketersediaan merupakan yg membendung pasar (minyak AS) diatas US$60 per barel, ” kata Pakar Kiat Pasar Senior RJO Futures Phillip Streible di Chicago.

Menurut Streible, ketidakpastian pasar yg memajukan harga ke area merah pada perdagangan tempo hari. Akan tetapi, pasar bisa bertahan secara baik.

Di minggu awal ini, pasar dapatkan surprise dari penurunan persediaan minyak mentah AS yg menderek harga.

About penulis77